Pemerintah dan masyarakat Indonesia jangan selalu reaktif dalam menghadapi berbagai konflik akibat perbedaan ras, suku, agama, atau golongan. Semua gesekan itu semestinya dijadikan pelajaran untuk memperkuat kesadaran multikulturalisme demi mencari bangunan bangsa.
Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta Komaruddin Hidayat menyampaikan hal itu di sela-sela konferensi internasional ”Promoting Multiculturalism in Southeast Asia” di Jakarta, Rabu (23/3). Seminar dibuka Duta Besar Kanada Mackenzie Clugston, dengan pembicara, antara lain, Guru Besar Ilmu Politik University of Toronto Jacques Bertrand, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Azyumardi Azra, dan Direktur CRCS UGM Yogyakarta Zainal Abidin Bagir.
Menurut Komaruddin, bangsa Indonesia selama ini masih cenderung bereaksi secara instan dan sesaat dalam menghadapi konflik-konflik akibat keberagaman. Dia berharap bangsa ini hendaknya melihat gesekan akibat perbedaan suku, ras, agama, atau golongan dengan pendekatan lebih luas dan jangka panjang. Dialog perlu terus digiatkan demi mengentalkan kesadaran hidup bersama di tengah perbedaan.
Mackenzie Clugston berharap setiap negara bisa berbagi pengalaman tentang multikulturalisme. Di Kanada, multikulturalisme membuat semua warga negara bangga dengan identitasnya, merasa aman, percaya diri, dan terbuka. Sikap ini melahirkan keharmonisan dan pemahaman lintas budaya. (IAM/WHY/ONG)
sumber : klik disini