Pengumpan:
Tulisan
Komentar

TAPAKTUAN-ACEH – Sedikitnya seratus warga Jambo Kupok, Kecamatan Kota Bahagia, Aceh Selatan mengelar doa bersama memperingati tragedi penembakan dan pembakaran 16 warga di tahun 2003, saat Aceh masih bersatus sebagai daerah Darurat Militer. Warga berharap pemerintah mengusut tragedi kemanusian itu.

Doa dipimpin Tgk. Baizawi pimpinan pasanteren Hasabul Yamin, Kecamatan Bakongan. Ini merupakan kegiatan doa bersama yang pertama sekali digelar warga untuk mengenang korban peristiwa tersebut. Lanjut Baca »

Korban Pelanggaran HAM Dimuseumkan

Banda Aceh – Seisi ruangan itu remang-remang. Papan-papan merah ukuran kardus mie instan menempel di dinding ruangan tengah; berbagai kisah pelanggaran HAM di Aceh tercatat di papan itu. Di bagian kanan, dipajang foto-foto orang hilang. Di kanannya lagi, ada layar lebar yang menyiarkan film dokumentar tentang pelanggaran HAM. Orang-orang lalu-lalang di dalamnya. Itulah suasana malam pertama diresmikan Aceh Human Rights Museum, atau, Museum HAM Aceh. Lanjut Baca »

Sumber konflik di dunia saat ini makin berkembang dan kompleks. Konflik tidak lagi bersumber pada perbedaan ideologis, sengketa wilayah dan perbatasan, serta pemberontakan separatis. Sejumlah isu telah berkembang menjadi sumber konflik baru dan masyarakat dunia perlu mengerahkan seluruh energi, bekerja sama mengatasi konflik itu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan itu saat membuka Jakarta International Defense Dialogue, Rabu (23/3) di Jakarta. Hadir dalam dialog tersebut antara lain Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao serta delapan menteri pertahanan dan sepuluh panglima angkatan bersenjata negara sahabat. Lanjut Baca »

Pemerintah dan masyarakat Indonesia jangan selalu reaktif dalam menghadapi berbagai konflik akibat perbedaan ras, suku, agama, atau golongan. Semua gesekan itu semestinya dijadikan pelajaran untuk memperkuat kesadaran multikulturalisme demi mencari bangunan bangsa.

Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta Komaruddin Hidayat menyampaikan hal itu di sela-sela konferensi internasional ”Promoting Multiculturalism in Southeast Asia” di Jakarta, Rabu (23/3). Seminar dibuka Duta Besar Kanada Mackenzie Clugston, dengan pembicara, antara lain, Guru Besar Ilmu Politik University of Toronto Jacques Bertrand, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Azyumardi Azra, dan Direktur CRCS UGM Yogyakarta Zainal Abidin Bagir. Lanjut Baca »

Bengkulu, Kompas – Penyelesaian kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia melalui rekonsiliasi dinilai sebagai jalan keluar masuk akal.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ifdhal Kasim seusai menjadi pembicara pada seminar tentang HAM yang digelar Kepolisian Daerah Bengkulu, Selasa (22/3). Ifdhal mengatakan, ketika membatalkan UU No 27/2004 tentang Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), MK memberikan opsi rekonsiliasi bagi penyelesaian kasus pelanggaran HAM. ”Ini (rekonsiliasi) jalan keluar yang masuk akal,” ujarnya. Lanjut Baca »

The resilience of women helps communities stay together in times of crisis because they shield their children and family from hardships and have the will to survive.

Former defense minister of Finland and peace activist Elizabeth Rehn said that women had a unique ability in post-conflict peace building because they would think not only about themselves but also their children and family. Lanjut Baca »

Oleh Renny Sri Ayu

Pagi itu, Sumiati (60) duduk menjaga dagangan sayur, di dalam lapak seluas dua meter persegi di Pasar Tentena, Kabupaten Poso (300 kilometer timur Palu). Lapak sangat sederhana itu hanya berupa empat tiang kayu ditutup seng di bagian atasnya.

Di dalam lapak ada sebuah meja yang di atasnya diletakkan sayur dan bumbu-bumbu. Sumiati duduk di belakang meja. ”Sebenarnya sayur ini dagangan saudara saya. Saya hanya bantu menjualkan. Saya tidak dibayar, tapi saya boleh ikutkan sagu saya untuk saya jual juga. Saya tidak punya modal untuk membuat lapak,” jelas Sumiati.

Dia sebenarnya tidak tinggal di Tentena, tetapi di Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota. Jarak Kayamanya-Tentena sekitar 60 kilometer. Hanya tiga kali sepekan dia datang berjualan sagu di Tentena sekaligus menjaga lapak. Keuntungan jual sagu Rp 20.000. Dia mengaku masih trauma hingga memilih datang ke Tentena hanya tiga kali sepekan. Lanjut Baca »

UN Special Rapporteur on the right to adequate housing Raquel Rolnik

8 March 2011 – An independent United Nations expert today stressed the need to ensure that human rights standards, particularly the right to adequate housing, are included in post-conflict and post-disaster reconstruction processes.

“This has disastrous consequences, particularly for the most vulnerable,” Raquel Rolnik, the UN Special Rapporteur on adequate housing, said in her annual report to the Geneva-based Human Rights Council. Lanjut Baca »

Tulisan Pertama disini

Spanyol masih bergulat dengan warisan Perang Saudara tahun 1930an. 70an tahun kemudian, kenangannya masih terasa pedih, menjadi kontroversi, dan topik publik generasi lama dan baru.

Tak ada yang jadul dan layak untuk dilupakan selama bangsa ini belum berdamai dengan masa silamnya yang kelam.

Dalam bagian pertama pekan lalu, dokumenter televisi Spanyol Los Caminos de la Memoria atau Lika-Liku Jalan Menelusuri Kenangan, telah kita ikuti upaya penggalian kuburan-kuburan massal yang dirahasiakan. Tapi Spanyol juga mengalami perpecahan bangsa akibat pembuangan mereka yang terlibat atau sanak saudara mereka yang kalah – mereka yang disebut ‘Rojos’, atau ‘Kaum Merah’. Lanjut Baca »

Setiap negara, setiap bangsa memiliki masa kelam, masa lampau yang ingin dilupakan, namun tak juga terlupakan. Masa gelap yang sedih dan pedih itu bisa terjadi akibat bencana alam, perang, perang saudara, masa pendudukan dan lain-lain.

Belanda mengalaminya semasa Perang Dunia Kedua ketika ribuan warganya diangkut Nazi ke kamp pemusnahan. Atau para warganya di Indonesia semasa perjuangan kemerdekaan ketika mereka dikurung Jepang di kamp interniran. Dan seterusnya. Indonesia pun memasuki masa kelam ketika konflik politik di pertengahan tahun 1960an akhirnya menghasilkan prahara.

Masa kelam seringkali menjadi kontroversi. Dia harus dikenal, tapi tak ingin dikenang. Semakin lama dia berlalu, semakin pelik menggelutinya. Hendak dilupakan, dia tetap mengganjal. Mereka yang kalah, atau pewaris kekalahan dan keluarga korban menuntut mengenali masa silam itu selengkapnya.

Trauma dan kontroversi inilah yang kini dihadapi Spanyol. Spanyol mengalami Perang Saudara yang menyakitkan di akhir tahun 1930an, tepatnya tahun 1936 hingga 1939. Namun baru puluhan tahun kemudian, masa kelam itu diunggah dan dibicarakan secara terbuka. Dan baru sekarang, kegelapan itu menjadi isu terbuka. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.